Portal Pendidikan Rumah Belajar

Merdeka Belajarnya, Rumah Belajar Portalnya, Maju Indonesia.

Kuliah Umum Level 4 Bersama Mas Menteri

Bapak Ibu guru sekalian merupakan cikal dari guru-guru penggerak, guru-guru dengan inisiatif dan semangat tinggi untuk terus berpacu dengan tuntutan zaman.

Tampilkan postingan dengan label Guru Penggerak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Guru Penggerak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Februari 2023

MENGAPA REFLEKSI ?

Salam dan bahagia Sahabat Sains.


Belajar tentang refleksi merupakan hal yang berkesan bagi saya sebagai guru IPA belakangan ini. Saya mulai belajar jujur dengan diri sendiri. Lebih banyak meluangkan waktu untuk terbuka, berdiskusi dengan anak didik terkait proses yang mereka lalui bersama saya, serta bertanggung jawab atas profesi saya sebagai abdi dari anak didik dengan sepenuh hati.  

Untuk membangun kebiasaan refleksi, perlu diawali dulu dengan pemahaman dan  kesadaran diri akan penting serta manfaat melakukan refleksi.

Apa sebenarnya makna dari refleksi? Apa bedanya dengan evaluasi?

Evaluasi ialah proses menganalisis peristiwa yang terjadi selama kegiatan pembelajaran dan hasil dari kegiatan tersebut. Kegiatan evaluasi diikuti dengan refleksi. Refleksi ialah proses memaknai secara holistik peristiwa yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran, sehingga para guru mendapatkan informasi bagaimana sebaiknya meningkatkan pembelajaran.

Memaknai secara holistik artinya bukan hanya melihat runutan apa yang terjadi, namun juga mempertimbangkan emosi, rasa, harapan, situasi sekitar, dan lain-lain. 

Proses refleksi dapat dilakukan kapan saja, tanpa perlu meluangkan waktu khusus. Proses Refleksi penting karena proses refleksi diikuti oleh tindak lanjut. Tindak lanjut ialah langkah-langkah konkret agar terjadi perubahan yang lebih baik.

Secara umum, Refleksi berguna untuk: 

  • Membantu lebih produktif
  • Menciptakan pola pikir baru
  • Menemukan solusi dari masalah yang terus-menerus terjadi

Manfaat refleksi bagi pengembangan diri pendidik:  

  • Proses refleksi merupakan langkah pengembangan diri yang mendasar bagi profesionalitas pendidik. Proses refleksi akan membantu pendidik mempertahankan rasa ingin tahu dalam kegiatan belajar pribadi, dan mengembangkan kebiasaan inkuiri yang mendorong perubahan diri dan perbaikan terus-menerus dalam praktek mengajar.
  • Saat pendidik beradaptasi dengan kurikulum baru dan strategi pembelajaran baru, proses refleksi dapat membantu pendidik dalam proses penyesuaian pola pikir. Dengan demikian, pendidik mampu menjalankan proses analisa secara kritis terhadap informasi baru yang diperoleh dan efektivitas penerapannya dalam pembelajaran, sehingga tingkat pemahaman pun akan lebih berkembang. 
  • Proses refleksi yang telah dilakukan tentunya akan menampilkan keberhasilan maupun kegagalan pendidik. Kegagalan tentunya penting dan berguna agar pendidik lebih banyak belajar dan mencari tahu strategi lain yang lebih efektif dengan membaca ataupun melakukan eksperimen. Begitupun dengan keberhasilan, strategi yang telah digunakan belum tentu dapat diulang dan menghasilkan kesuksesan yang sama.
  • Dalam proses refleksi, pendidik dapat mengevaluasi proses pembelajaran, menentukan bagian yang perlu dipertahankan, dikembangkan, atau perlu dimodifikasi hingga pendidik memiliki wawasan yang lebih luas dan pertimbangan yang lebih matang.
Manfaat refleksi bagi peningkatan kualitas pembelajaran:  
  • Proses refleksi akan mendorong pendidik untuk berlatih berpikir kritis tentang hasil rencana pembelajaran yang telah disiapkan. Selanjutnya, pendidik dapat mengupayakan berbagai solusi kreatif untuk mengatasi hambatan dan menemukan cara-cara inovatif untuk memperbaiki keterampilan mengajar. Dalam proses refleksi, pendidik dapat mengevaluasi proses pembelajaran, menentukan bagian yang perlu dipertahankan, dikembangkan, atau perlu dimodifikasi hingga pendidik memiliki wawasan yang lebih luas dan pertimbangan yang lebih matang. Data yang diperoleh dari proses refleksi terhadap kegiatan pembelajaran akan membantu pendidik untuk membuat keputusan tentang rencana kegiatan pembelajaran di masa mendatang dan pendampingan khusus yang mungkin perlu untuk dilakukan pada siswa-siswa tertentu.
  • Proses refleksi akan menyelaraskan keyakinan seorang pendidik tentang kegiatan belajar dan pengalaman nyata dalam proses belajar mengajar di kelas. Seringkali, pendidik menemukan bahwa ternyata terdapat ketidaksesuaian antara asumsi pendidik dengan kenyataan yang terjadi di dalam kelas. Misalnya, pendidik senior yakin bahwa pendekatan pembelajaran tertentu pada suatu topik akan selalu berhasil untuk meningkatkan pemahaman siswa. Namun dengan proses refleksi diri, pendidik dapat menyadari bahwa selalu ada peluang untuk lebih meningkatkan efektivitas pembelajaran di kelas

    Apakah manfaat refleksi bagi siswa?
Dengan melakukan refleksi maka siswa akan: 
Mengembangkan profil diri siswa yang berhubungan dengan kegiatan refleksi, seperti rasa tanggung jawab, kepemimpinan, empati, kreativitas, daya pikir kritis, dan kreativitas. Dengan demikian, siswa dapat berkembang dalam aspek akademis dan aspek sosial emosional sekaligus. 
Memiliki relasi yang lebih positif dengan pendidik karena dapat berekspresi dan berpendapat tentang suasana maupun sistem belajar yang diminati. Partisipasi siswa dalam proses belajar pun akan meningkat 
Melatih siswa untuk mengembangkan High Order Thinking Skills (HOTS) atau disebut juga sebagai Fungsi Eksekutif sehingga siswa terlatih untuk melakukan evaluasi mandiri pada tujuan belajar pribadi serta memantau perilaku dan sikap dalam belajar. Dengan demikian, kesadaran diri siswa akan meningkat sehingga siswa terlibat aktif dalam keseluruhan proses belajar dan menjadi pemelajar yang mandiri.

Terdapat tiga sikap dasar yang dapat mendukung kita melakukan proses refleksi dalam keseharian, yaitu :

1. Sepenuh Hati

Refleksi dilakukan tanpa paksaan dari pihak manapun dan atas kesadaran sendiri bahwa kegiatan ini membantu kita untuk berkembang

2. Jujur dan Berpikir Terbuka

Proses refleksi yang efektif membutuhkan kejujuran terhadap apa yang dipikirkan dan dirasakan. Selain itu, dibutuhkan juga keterbukaan akan informasi, saran, ataupun pendapat dari orang lain. Dengan begitu, kita bisa mendapatkan gambaran masalah yang lebih utuh dan mempermudah memikirkan solusi.

3. Rasa Tanggung Jawab

Sebagai pendidik, kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita ajarkan dan dampaknya terhadap peserta didik kita. Rasa tanggung jawab ini harus dimiliki oleh setiap guru dengan begitu akan timbul motivasi untuk selalu belajar dan mengembangkan kemampuan pedagogi.

Menurut Stephen Brookfield, terdapat empat lensa atau perspektif yang dapat kita gunakan dalam berefleksi, yaitu : 

  1. Lensa diri: menggunakan pengalaman pribadi.
  2. Lensa pemelajar: menggunakan perspektif peserta didik (diperoleh melalui: empati, berdialog langsung, melakukan survey, hasil asesmen, dsb).
  3. Lensa rekan sejawat: menggunakan perspektif rekan sejawat (diperoleh melalui diskusi dan berbagi pengalaman secara informal)
  4. Lensa teori atau literatur: menggunakan informasi yang diperoleh melalui buku, jurnal, kelas profesional, pelatihan mandiri di Platform Merdeka Mengajar (PMM), dsb. 

Keempat perspektif ini dapat digunakan untuk berkaca pada diri sendiri dan terus mengembangkan diri sebagai pendidik.

Apakah yang terjadi apabila guru tidak memiliki kebiasaan refleksi?

Proses pembelajaran hanya akan seperti pengguguran kewajiban saja baik pendidik maupun pada siswa. Sesi belajar akan berlangsung tanpa tujuan yang bermakna bagi masing-masing pihak.

Bagaimana cara memulai membiasakan diri melakukan refleksi?

  1. Luangkan waktu, buatlah jadwal rutin refleksi diri dan pastikan Ibu dan Bapak guru tidak terburu-buru dalam menjalani prosesnya 
  2. Pastikan hasil refleksi tercatat dengan baik. Ibu dan Bapak guru bisa menuliskan di dalam jurnal pribadi sebagai pengingat akan proses serta progres refleksi yang telah dilakukan. 
  3. Memiliki rekan bertukar pikiran, dapat memperkaya perspektif kita dalam proses refleksi. Pilihlah teman Ibu dan Bapak guru yang cukup jujur dan kritis dalam mengevaluasi proses pembelajaran yang akan maupun telah dilakukan


Kamis, 01 September 2022

Menavigasi Diri Menuju Well Being Melalui Kepemimpinan Murid (Student Agency)

Sebuah analogi dalam memaknai merdeka berpikir dalam kurikulum merdeka. Seorang pendidik dianalogikan sebagai pemandu dan murid dianalogikan sebagai pendaki gunung. Tugas sebagai pemandu adalah menuntun pendaki untuk mencapai puncak. 

 

Ini ibarat seorang pendidik menuntun murid hingga sampai pada tujuan belajarnya. Pemandu lebih awal mencapai rute terbaik karena sudah lebih awal mengetahui rute yang biasa dijalaninya. Ibarat seorang pendidik merencanakan langkah-langkah pembelajaran terhadap muridnya. Pemandu memilih tempat istirahat sejenak bagi pendaki untuk melihat pemandangan dan rute yang telah dilalui. Ibaratkan seorang guru yang tengah melakukan refleksi terhadap pembelajaran yang telah dilakukannya. 

Analogi ini sejalan dengan filosofi dan metafora “menumbuhkan padi”, Ki Hajar Dewantara bahwa dalam mewujudkan pembelajaran yang berpusat pada murid,  kita harus secara sadar dan terencana membangun ekosistem yang mendukung pembelajaran murid sehingga mampu memekarkan mereka sesuai dengan kodratnya. Murid secara natural adalah seorang pengamat, penjelajah, penanya, yang memiliki rasa ingin tahu atau minat terhadap berbagai hal tanpa melupakan kodrat alam dan kodrat zamannya. 



                                                        
Sumber Foto: Dokumen Pribadi

Melalui rasa ingin tahu serta interaksi dan pengalaman mereka dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya, mereka kemudian mongkonstruksi pemahaman tentang diri mereka, orang lain, lingkungan sekitar, maupun dunia yang lebih luas. Murid bukanlah kertas kosong, mereka memiliki potensi yang telah dibawanya dari lahir. Murid-murid kita sebenarnya memiliki kemampuan atau kapasitas untuk mengambil bagian atau peranan dalam proses belajar mereka sendiri. Namun, terkadang guru atau orang dewasa memperlakukan murid-murid seolah-olah mereka tidak mampu membuat keputusan, pilihan atau memberikan pendapat terkait dengan proses belajar mereka. Kadang-kadang kita bahkan tanpa sadar membiarkan murid-murid kita secara sengaja menjadi tidak berdaya (learned helplessness), dengan secara sepihak memutuskan semua yang harus murid pelajari dan bagaimana mereka mempelajarinya, tanpa melibatkan peran serta mereka dalam proses pengambilan keputusan tersebut. 



Sumber Foto: Dokumen Pribadi

Dengan demikian, saat kita merancang sebuah program/kegiatan pembelajaran di sekolah, baik itu intrakurikuler, ko-kurikuler, atau ekstrakurikuler, maka murid juga seharusnya menjadi pertimbangan utama. Pertanyaannya kemudian adalah sejauh mana kita dapat menempatkan murid dalam proses pengambilan keputusan terkait dengan program/kegiatan pembelajaran tersebut?

Berkaitan dengan pengambilan keputusan terhadap metode yang diinginkan oleh murid untuk mengembangkan kemampuan berpikirnya, guru sebagai penuntun dalam pembelajaran dapat menganalisis kebutuhan belajar murid dengan melakukan analisis kognitif di awal pembelajaran. caranya dengan :

1. Mengamati perilaku murid
2. Mengidentifikasi pengetahuan awal
3. Meriview dan melakukan refleksi terhadap praktik pengajaran
4. Coaching terkait potensi
5. Membaca raport murid dari kelas sebelumnya
6. Menggunakan survei

Berikut contoh hasil analisis diagnosis di awal pembelajaran terhadap kesiapan belajar murid dan minat murid mempelajari materi pengukuran murid berdasarkan gaya belajarnya.

Sumber : Dokumen Pribadi

Agar kita dapat menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka kita perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga  potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik.  Peran guru adalah mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai kodrat, konteks, dan kebutuhannya. Guru membiasakan mengurangi kontrol terhadap mereka. 

Sumber Foto: Dokumen Pribadi

Saat murid memiliki kontrol atas apa yang terjadi, atau merasa bahwa mereka dapat mempengaruhi sebuah situasi inilah, maka murid akan memiliki apa yang disebut dengan “agency”.  Agency berasal dari bahasa inggris yang diartikan sebagai kapasitas seseorang untuk mempengaruhi fungsi dirinya dan arah jalannya peristiwa melalui  tindakan yang dibuatnya. Murid mendemonstrasikan “student agency”  ketika mereka mampu mengarahkan pembelajaran mereka sendiri, membuat pilihan-pilihan, menyuarakan opini, mengajukan pertanyaan dan mengungkapkan rasa ingin tahu, berpartisipasi dan berkontribusi pada komunitas belajar, mengkomunikasikan pemahaman mereka kepada orang lain, dan melakukan tindakan nyata sebagai hasil proses belajarnya.

Jika kita mengacu pada OECD (2021), ‘kepemimpinan murid’ berkaitan dengan pengembangan identitas dan rasa memiliki. Ketika murid mengembangkan agency, mereka mengandalkan motivasi, harapan, efikasi diri, dan growth mindset (pemahaman bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat dikembangkan) untuk menavigasi diri mereka menuju kesejahteraan lahir batin (wellbeing). Hal inilah yang kemudian memungkinkan mereka untuk bertindak dengan memiliki tujuan, yang membimbing mereka untuk berkembang di masyarakat.

Konsep kepemimpinan murid  sebenarnya berakar pada prinsip bahwa murid memiliki kemampuan dan keinginan untuk secara positif mempengaruhi kehidupan mereka sendiri dan dunia di sekitar mereka. Kepemimpinan murid dapat dilihat sebagai kapasitas untuk menetapkan tujuan, melakukan refleksi dan bertindak secara bertanggung jawab untuk menghasilkan perubahan. Kepemimpinan murid adalah tentang murid yang bertindak  secara aktif; dan membuat keputusan serta pilihan yang bertanggung jawab, daripada hanya sekedar menerima apa yang ditentukan oleh orang lain. Ketika murid menjadi agen dalam pembelajaran mereka sendiri, yaitu ketika mereka berperan aktif dalam memutuskan apa dan bagaimana mereka akan belajar, maka mereka cenderung menunjukkan motivasi yang lebih besar untuk belajar dan lebih mampu menentukan tujuan belajar mereka sendiri. Lewat proses yang seperti ini, murid-murid akan secara natural mempelajari keterampilan belajar (belajar bagaimana belajar). Keterampilan belajar ini adalah sebuah keterampilan yang sangat penting, yang dapat dan akan mereka gunakan sepanjang hidup mereka.

Sumber Pustaka : OECD (2021), 21st-Century Readers: Developing Literacy Skills in a Digital World. PISA. OECD Publishing. Paris. Diakses pada https://doi.org/10.1787/a83d84cb-en. Tanggal 12 Agustus 2022 


Sabtu, 23 April 2022

Bingkai Kompetisi Sains Terpadu VIII se-Bali MGMP IPA Karangasem

"Veritas Vos Liberabit"

 Kebenaran akan membebaskanmu





Kompetisi Sains Terpadu (KST)  Tingkat SMP se-Bali merupakan perhelatan yang diselenggarakan oleh MGMP IPA SMP Kabupaten Karangasem. Perhelatan ini merupakan program yang rutin dilaksanakan tiap tahunnya dan menjadi icon pembiasaan literasi sains di Karangasem. 

Mengusung tema "Kompetisi Sains Terpadu VIII Gerakkan Budaya Literasi Sains dalam Bingkai Merdeka Belajar", MGMP IPA SMP Karangasem berkomitmen menumbuhkembangkan kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis, sistematis, kreatif, dan inovatif  sebagai bekal kehidupan. Melalui KST VIII, MGMP IPA Karangasem dengan dukungan Bupati Karangasem, Kadisdikpora Karangasem, MKKS SMP Karangasem, dan Kordinator Pengawas Sekolah memberikan apresiasi kepada peserta didik yang berprestasi dalam bidang Sains.

KST VIII diikuti oleh 242 peserta dari 51 sekolah di Bali. KST VIII dilaksanakan dalam dua babak, yaitu babak penyisihan dan babak final. Babak penyisihan di Aula Sabha Widya Praja Disdikpora Karangasem tanggal 20 April 2022 diawali dengan pembukaan kegiatan oleh Bapak Bupati Karangasem, I Gede Dana dihadiri oleh Bapak Kadisdikpora Karangasem, ketua MKKS SMP Karangasem, dan Kordinator Pengawas di Karangasem. 

Pembukaan kegiatan  oleh Bupati Karangasem


Penyisihan dilakukan di sekolah masing-masing secara online dengan dipantau menggunakan aplikasi Google Meet. Hasil babak penyisihan mencetak 20 peserta terbaik yang melenggang ke babak final secara luring bertempat di Aula Sabha Widya Praja Disdikpora Karangasem. 

Dokumentasi Peserta KST VIII 


DOWNLOAD DISINI NAMA PESERTA KST VIII

HASIL BABAK PENYISIHAN


DOWNLOAD DISINI HASIL BABAK PENYISIHAN 

Hasil babak final  sebagai berikut 
Juara 1 diraih oleh I Putu Rajendra Pradana Putra dari SMPN 4 Singaraja
Juara 2 diraih oleh I Gede Wahyu Dipta Pariandika dari SMPN 2 Amlapura
Juara 3 diraih oleh Joshua Setia Imanuel dari SMPN 4 Singaraja
Juara harapan 1 diraih oleh Ni Kadek Hepi dari Jelita Meila dari SMPN 2 Amlapura
Juara harapan 2 diraih oleh Ni Made Purnami dari SMPN 1 Amlapura
Juara harapan 3 diraih oleh I Made Reeyza dari SMPN 1 Amlapura



Download DISINI hasil Babak Final

Dokumentasi Kegiatan 




Audiensi dengan Bapak Bupati Karangasem bertempat di kantor Bupati Karangasem


Juara 1, 2, dan 3 KST VIII se-Bali


Penyerahan voucher kepada juara harapan


Juara Harapan 1, 2 dan 3 KST VIII se-Bali



Pelaksanaan penyisihan di Aula Disdikpora

Antusias penyisihan secara online 

Antusias penyisihan secara online  

Antusias penyisihan secara online 

Antusias Penyisihan Secara Online 

Antusias Penyisihan Secara Online

Acara ini juga disupport oleh Wikrama print dan Ganesha Operation Karangasem.  


Sponsor dari Ganesha Operation (GO) Karangasem

kecerian Tim Panitia


Keceriaan Tim Panitia


Keceriaan Panitia

Juara Final KST VIII



Pelaksanaan Final 20 Besar Peserta Terbaik 


Penyerahan Piala Juara


Penutupan KST VIII oleh bapak Kadisdikpora yang diwakili oleh Bapak Kabid SMP


Terimakasih kami ucapkan kepada segenap pihak yang telah membantu kelancaran KST VIII Tingkat SMP se-Bali Tahun 2022. 

Jayalah terus MGMP IPA di hari jadi ke-14 (23 April 2022)

Rabu, 30 Maret 2022

Menebar Kasih Berbagi Cahaya di SMP Negeri 2 Sidemen

Guru Menyapa Siswa Bahagia

Tahun ini sekolah saya menginjak usia ke-30 sejak berdirinya. Jika ditelusuri angka tersebut terdiri dari 3 dan 0. Saya memaknainya dengan tiga tempat untuk memulai, dari brain, hati, dan kaki (langkah). Makna 30 menurut Feng Shui adalah optimis dalam menentukan pilihan yang  lebih baik untuk masa depan. 

Mengawali dari brain (pikiran yang tulus), momentum 30 bagi saya adalah unik. Saya optimis memfasilitasi siswa memahami setiap potensinya sebagai aset utama.  Mencapai visi "Menyelenggarakan sekolah aman dan nyaman mewujudkan pelajar pancasila" akan indah seirama dengan kolaborasi apik stakeholder Spendasi, sekolah kami. 


Senin, 28 Maret 2022, saya mengisi dengan langkah awal. Langkah sederhana tak harus mewah. Menuntun siswa saya dengan melaksanakan giat pagi hari adalah bagian dari "Guru menyapa".  Berkolaborasi dengan waka kesiswaan, ibu Ni Luh Putu Sri Wahyuningsih dan pembina osis, bapak Komang Gede Hadi Purnama, saya memantik anak-anak untuk fokus pada belajar mendengar yang efektif dan berbicara yang positif. 

Tujuannya sederhana, apapun kegiatannya muaranya adalah anak-anak didik. Saya belajar memberikan mereka ruang untuk mengembangkan potensinya. 

Tema yang saya sampaikan adalah "Menebar Kasih Berbagi Cahaya".

Hari ini sepuluh menit yang berharga bagi kami. Satu murid saya, Slamet yang tergolong sering mendapat teguran dari guru, mengangkat tangan dan bersedia maju. Slamet bercerita hal baik yang telah dilakukannya dalam sepekan ini dalam mempersiapkan hari Saraswati. Slamet menyadari bahwa dia sering membuat gurunya kewalahan mengaturnya. Melalui kesempatan ini Slamet  berterimakasih dan meminta maaf untuk lebih baik kedepannya. Harapan kami Slamet mulai berbenah dan manis berperilaku.

Kemudian murid saya, Lanang bercerita tentang keanekaragaman budaya Bali. Lanang adalah wakil ketua osis. Nah, ini salah satu murid yang rupanya berbakat dalam orasi. Saya akhirnya mengetahui potensinya. Luar biasa pembawaannya di depan berinteraksi dengan temannya.

"Bagaimana perasaan kalian?"

Saya menanyakan hal tersebut ketika mereka selesai bercerita. 

"Lega bu, saya keluar keringat dingin" Begitu anak didik saya menjawab.




Bagi saya berani berbicara di depan umum merupakan salah satu cara membiasakan keterampilan berkomunikasi dan berpikir kritis. Hal itu juga salah satu metode menerapkan kompetensi sosial emosional (KSE). 

Begitupun juga guru wajib mempelajari seni-seni menuntun setiap potensi yang dimiliki siswa. 

"Gajah tidak mungkin dipaksakan terbang, ikan tidak mungkin memanjat,  begitupun burung tidak mungkin dipaksakan berlari". Mereka memiliki keunikannya masing-masing.

Kesempurnaan hanyalah milik Sang Pencipta. Tak ada satupun program yang nyaris sempurna. Bagi saya OPTIMIS di 3 0 adalah langkah awal untuk guru, siswa, keluarga, dan masyarakat bergerak dan tergerakkan. 








Pemantik dari saya 

Berani mengajar?? Harus berani belajar!

Jumat, 11 Februari 2022

Memaknai Pembelajaran Berdiferensiasi

Hai Sahabat Sains 

Kali ini Mb Nyoman akan mengulas tentang pembelajaran berdiferensiasi (PB)

APA ITU PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI?

Pembelajaran berdiferensiasi (PB) bukanlah hal yang baru dalam dunia pendidikan. Kepedulian pada siswa dalam memperhatikan kekuatan dan kebutuhan siswa menjadi focus perhatian dalam PB. Profil pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar siswa. PB mengharuskan pendidik mencurahkan perhatian dan memberikan tindakan untuk memenuhi kebutuhan khusus siswa. PB memungkinkan guru melihat pembelajaran dari berbagai perspektif. PB merupakan proses siklus mencari tahu tentang siswa dan merespons belajarnya berdaarkan perbedaan. Ketika guru terus belajar tentang keberagaman siswanya, maka pembelajaran yang profesional, efesien, dan efektif akan terwujud.


PB merupakan penyesuaian terhadap minat, preferensi belajar, kesiapan siswa agar tercapai peningkatan hasil belajar. PB bukanlah pembelajaran yang diindividualkan. Namun, lebih cenderung kepada pembelajaran yang mengakomodir kekuatan dan kebutuhan belajar siswa dengan strategi pembelajaran yang independen. Saat guru merespon kebutuhan belajar siswa, berarti guru mendiferensiasikan pembelajaran dengan menambah, memperluas, menyesuaikan waktu untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal. 

Pembelajaran berdiferensiasi pada hakikatnya pembelajaran yang memandang bahwa siswa itu berbeda dan dinamis. Karena itu, sekolah harus memiliki perencanaan tentang pemberajaran berdiferensiasi, antara lain:
  1. Mengkaji kurikulum saat ini yang sesuai dengan kekuatan dan kelemahan siswa.
  2. Merancang perencanaan dan strategi sekolah yang sesuai dengan kurikulum dan metode pembelajaran yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan siswa.
  3. Menjelaskan bentuk dukungan guru dalam memenuhi kebutuhan siswa.
  4. Mengkaji dan menilai pencapaian rencana sekolah secara berkala. 
Pembelajaran berdiferensiasi bisa dilksanakan jika sekolah sudah memiliki kebijakan tentang penerapannya pada anak berkebutuhan khusus di sekolah inkusif. Termasuk di dalamnya komunikasi yang terstruktur dengan komite sekolah, guru, dan orangtua. Guru harus memperhatikan beberapa apek dalam belajar dan pembelajaran. Ada enam (6) elemen yang berkontribusi terhadap belajar dan pembelajaran.


Gambar  Elemen yang Berkontribusi dalam Pembelajaran

TUJUAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
  1. Untuk membantu semua siswa dalam belajar. Agar guru bisa meningkatkan kesadaran terhadap kemampuan siswa, sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai oleh seluruh siswa. 
  2. Untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. Agar siswa memperoleh hasil belajar yang sesuai dengan tingkat kesulitan materi yang diberikan guru. Jika siswa dibelajarkan sesuai dengan kemampuannya maka motivasi belajar siswa meningkat.
  3. Untuk menjalin hubungan yang harmonis guru dan siswa. Pembelajaran berdiferensiasi meningkatkan relasi yang kuat antara guru dan siswa sehingga siswa semangat untuk belajar.
  4. Untuk membantu siswa menjadi pelajar yang mandiri. Jika siswa dibelajarkan secara mandiri, maka siswa terbiasa dan menghargai keberagaman.
  5. Untuk meningkatkan kepuasan guru. Jika guru menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, maka guru merasa tertantang untuk mengembangkan kemampuan mengajarnya sehingga guru menjadi kreatif. 
KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Ada empat (4) komponen pembelajaran berdiferensiasi, yaitu: isi, proses, produk, dan lingkungan belajar. 
1. Isi meliputi apa yang dipelajari siswa. Isi berkaitan dengan kurikulum dan materi pembelajaran. Pada aspek ini, guru memodifikasi kurikulum dan materi pembelajaran berdasarkan gaya belajar siswa dan kondisi disabilitas yang dimiliki. Isi kurikulum disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan siswa. Umumnya, guru tidak mampu mengontrol isi kurikulum yang spesifik (yang tidak bisa dipahami semua anak) berdasarkan gaya belajar siswa serta menyesuaikan materi pembelajaran berdasarkan jenis disabilitas yang dimiliki. 

Contoh diferensiasi pada komponen isi adalah: 
  • Menggunakan bahan bacaan pada berbagai tingkat keterbacaan. 
  • Menyediakan bahan ajar pada kaset. 
  • Menggunakan daftar kosakata untuk mengetahui tingkat kesiapan siswa. 
  • Mempresentasikan ide melalui sarana pendengaran dan penglihatan. 
  • Menggunakan teman bacaan. 
  • Menggunakan kelompok kecil untuk mengajarkan kembali ide atau keterampilan pada siswa yang mengalami kesulitan, serta memperluas pemikiran atau keterampilan peserta didik yang sudah menguasai.
2. Proses, yakni bagaimana siswa mengolah ide dan informasi. Bagaimana siswa berinteraksi dengan materi dan bagaimana interaksi tersebut menjadi bagian yang menentukan pilihan belajar siswa. Karena banyaknya perbedaan gaya dan pilihan belajar yang ditunjukkan siswa, maka kelas harus dimodifikasi sedemikian rupa agar kebutuhan belajar yang berbeda-beda dapat diakomodir dengan baik. Gregory & Chapman (2002) menyatakan proses pembelajaran yang dimodifikasi tersebut adalah: a. Mengaktifkan pembelajaran. Aktivitas belajar difokuskan pada materi yang dipelajari, menghubungkan materi yang belum dikuasai, memberi kesempatan pada siswa untuk mencari mengapa materi yang dipelajari penting, dan menjelaskan apa yang dilakukan siswa setelah belajar. b. Kegiatan belajar. Melibatkan kegiatan pembelajaran yang sebenarnya, seperti pemodelan, latihan, demonstrasi, atau game pendidikan. c. Kegiatan pengelompokkan. Baik kegiatan belajar individu maupun kelompok harus direncanakan sebagai bagian dari proses pembelajaran. 

Contoh diferensiasi pada komponen proses adalah: 
  • Menggunakan kegiatan berjenjang, semua siswa bekerja dengan pemahaman dan keterampilan yang sama, serta melanjutkan dengan berbagai tingkat dukungan, tantangan, dan kompleksitas. 
  • Menyediakan pusat minat yang mendorong siswa untuk mengeksplorasi diri. 
  • Mengembangkan agenda pribadi (daftar tugas yang ditulis oleh guru) yang harus diselesaikan selama waktu yang ditentukan. 
  • Menawarkan dukungan langsung lainnya bagi siswa yang membutuhkan. 
  • Memvariasikan waktu yang disediakan bagi siswa untuk menyelesaikan tugas.
3. Produk, bagaimana siswa menunjukkan apa yang telah dipelajari. Produk pembelajaran memungkinkan guru menilai materi yang telah dikuasai siswa dan memberikan materi berikutnya. Gaya belajar siswa juga menentukan hasil belajar seperti apa yang akan ditunjukkan pada guru. 

Contoh diferensiasi pada komponen produk adalah
  • Memberi siswa pilihan cara mengekspresikan kebutuhan pembelajaran (seperti membuat pertunjukan boneka, menulis surat, atau membuat puisi). 
  • Menggunakan rubrik yang cocok dan memperluas keberagaman tingkat keterampilan siswa.
  • Membolehkan siswa bekerja sendiri atau berkelompok kecil untuk menuntaskan tugas. 
  • Mendorong siswa untuk membuat tugas mereka sendiri.
4. Lingkungan Belajar, bagaimana cara siswa bekerja dan merasa dalam pembelajaran. 

Contoh diferensiasi pada komponen lingkungan belajar adalah: 
  • Memastikan ada tempat di ruangan untuk bekerja dengan tenang dan tanpa gangguan, serta tempat yang menyediakan siswa berkolaborasi. 
  • Menyediakan materi yang mencerminkan berbagai budaya. 
  • Menetapkan pedoman yang jelas untuk kerja mandiri yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
  • Mengembangkan rutinitas yang memungkinkan siswa untuk mendapatkan bantuan ketika guru sibuk dengan siswa lain dan tidak dapat segera membantu mereka.
  • Membantu siswa memahami bahwa ada siswa yang perlu bergerak untuk belajar, sementara yang lain lebih suka duduk dengan tenang. 
PRINSIP-PRINSIP PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
  1. Asesmen yang berkesinambungan dalam pembelajaran. Guru secara terus menerus mengumpulkan informasi tentang bagaimana siswa belajar sehingga dapat menyusun rencana pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. 
  2. Guru menjamin proses pembelajaran yang mengakui keberadaan semua siswa. Siswa dibelajarkan berdasarkan kesamaan minat, merangkul semua siswa. Guru memandang semua tugas siswa berharga dan bermanfaat. 
  3. Pengelompokkan siswa secara fleksibel. Guru merancang pembelajaran yang memungkinkan semua siswa bekerjasama dengan berbagai teman sebaya pada waktu tertentu. Siswa juga bekerja dengan teman sebaya yang memiliki tingkat kesiapan sama dan berbeda dengan dirinya. Siswa juga bekerja dengan teman sebaya yang sama minatnya, kadang dengan teman sebaya yang berbeda minatnya.
  4.  Adanya kolaborasi dan koordinasi yang terus menerus antara guru kelas/ guru bidang studi dengan guru pendidik khusus. 
  5. Guru dan siswa bekerja bersama membangun komitmen untuk mewujudkan hasil belajar yang diharapkan. 
  6. Penggunaan waktu yang fleksibel dalam merespon proses dan hasil belajar siswa.
  7. Strategi pembelajaran yang bervariasi, seperti pusat belajar, pusat pengembangan bakat dan minat, pusat olahraga, pembelajaran tutor sebaya, dan sebagainya. 
  8. Siswa dinilai dengan berbagai cara sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan setiap siswa.
Sumber : Tomlinson (2000b).

KOMITMEN DALAM PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI
Komitmen dalam melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi merupakan sebuah janji yang saling mengikat hasil belajar siswa, mengembangkan profesional dan proses kolaborasi yang menjamin keberhasilan belajar bagi semua. Komitmen pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi, meliputi: 
  1. Menggunakan asesmen. Termasuk di dalamnya memperhatikan masukan, kesiapan, minat dan bakat siswa.
  2. Menggunakan hasil asesmen untuk mendiferensiasikan lingkungan belajar, pembelajaran, dan evaluasi. 
  3. Memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa. 
  4. Membuat penyesuaian (bisa dilakukan kapan saja) untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak dapat diperkirakan.
Bagan alir pembelajaran berdiferensiasi


Berikut ini merupakan praktik baik Mbok Nyoman dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi yang diintegrasikan dengan komponen sosial emosional, yang diakronimkan dengan "Berdasi Kosmos".

Praktik Baik ini telah didiseminasikan dalam rangka lomba peringatan HUT ke-76 PGRI dan Hari Guru Nasional Tahun 2021 Provinsi Bali (17 Nopember 2021) dan astungkara berhasil memperoleh Juara 2 tingkat SMP. 


Berikut saya lampirkan pemetaan kebutuhan belajar, RPP, LKPD, dan dokumentasi kegiatan


Informasi lain
Contoh RPP Berdiferensiasi klik DISINI dan DISINI Untuk IPA SMP

Rabu, 09 Februari 2022

Merancang Program Berdampak pada Murid

Halo Sahabat Sains


Semoga para Calon Guru Penggerak dalam keadaan sehat sampai pada modul akhir dari Program Pendidikan Guru Penggerak

Saya pribadi mengucapkan selamat atas perjalanan bapak/ibu CGP hingga sampai pada merancang sebuah program pengelolaan sekolah yang nantinya diharapkan memberikan kemerdekaan belajar bagi murid bapak/ibu. 

Melalui ruang kolaborasi 3.3.a.5 CGP angkatan pertama diberikan tugas dalam merancang sebuah program yang berdampak pada murid dengan berbasiskan aset/ modal yang ada di sekolah dan lingkungan sekitarnya. Nah pada kesempatan ini kami berdiskusi dan sepakat membuat sebuah program Mindfulness meditation untuk mengembangkan kemampuan sosial emosional murid dan guru. diharapkan nanti dengan pembiasaan kegiatan meditasi di sekolah akan memberikan ketenangan berpikir warga sekolah dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran dan berimbas pada adanya rasa nyaman dan bahagia (well-being) ekosistem pendidikan di sekolah kami. 

Berikut ini merupakan hasil diskusi kelompok kami. 

Video Hasil Presentasi



File tersebut dapat diunduh dengan klik [DISINI]

PEMIMPIN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN (STUDI KASUS DILEMA ETIKA)

Sahabat Sains sebagai calon guru penggerak tentunya bapak/ibu  dilatihkan untuk menjadi pemimpin sekolah. Sebagai seorang pemimpin atau managerial akan banyak bapak / Ibu menemukan kerikil-kerikil kecil yang menghalangi perjalanan dalam membawa perubahan ke arah sekolah yang lebih maju. 

Begitupun juga dengan guru-guru yang nantinya akan bapak/ibu gerakkan, tentunya ada saja dilema etika ataupun bujukan moral yang terjadi.

Berikut ini merupakan contoh kasus sebuah dilema etika dari kelompok saya. 



Untuk mendownload silahkan klik [DISINI]
Semoga bapak/ibu CGP makin menjadi guru yang tangguh sebagai bekal perjalanan menjadi pemimpin dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab

Sabtu, 25 Desember 2021

MENERAPKAN INKUIRI APRESIATIF BAGJA PADA PEMILIHAN KETUA DAN WAKIL KETUA OSIS

Salam dan Bahagia 
Belajar Bergerak Berbagi untuk Negeri 

Sahabat Sains kali ini Mbok Nyoman akan berbagi cerita menerapkan pendekatan inkuiri apresiatif model BAGJA. Pengalaman ini dilakukan ketika menuntun pengurus Osis Masa Bakti 2021 dalam menyelenggarakan Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua Osis Masa Bakti 2022 di sekolah Mbok Nyoman, SMP Negeri 2 Sidemen. Dalam hal ini Mbok Nyoman berkolaborasi dengan CGP angkatan 4 Karangasem, Nyoman Gede Hadi Purnama, yang juga pembina Osis. Beliau menginisiasi pemilihan ketua Osis secara merdeka untuk membelajarkan siswa mandiri, kreatif, dan bergotong royong. 


Inkuiri apresiatif menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. 
Bagja merupakan salah satu manajemen perubahan yang mengadopsi pendekatan inkuiri apresiatif. Alur dari Bagja, yaitu 
  1. BUAT PERTANYAAN
  2. AMBIL PELAJARAN
  3. GALI MIMPI
  4. JABARKAN RENCANA 
  5. ATUR EKSEKUSI 
Selengkapnya tentang BAGJA dapat di klik [DISINI]

Pada tahap Buat Pertanyaan hal-hal yang saya pikirkan sebagai bentuk awal arah dari penelusuran, yaitu:
  • Bagaimana cara membiasakan pengurus Osis bekerja berdasarkan inisiatifnya dalam menyelenggarakan suksesi?
  • Bagaimana cara menuntun pengurus Osis dalam merencanakan kegiatan pemilihan ketua dan wakil ketua Osis secara Luber dan Jurdil?
  • Bagaimana cara mengaktifkan keterlibatan seluruh anggota dalam suksesi?
Berlanjut ketahapan Ambil Pelajaran, hal-hal yang saya cermati sebagai tuntunan dalam mengambil pelajaran atas hal positif yang saya dapatkan selama di SMP Negeri 2 Sidemen, yaitu:
  • Kebijakan yang selama ini mendukung di SMP Negeri 2 Sidemen yaitu pemilihan ketua Osis dapat dilangsungkan secara demokratis
  • Pemilihan ketua Osis dilaksanakan secara voting dimana pembina Osis yang menentukan cara pemilihan calon ketua
  • Selama ini pemilihan dilaksanakan dengan perkenalan ketua dan orasi selanjutnya dilaksanakan pemilihan suara tanpa mendengarkan visi dan misi calon ketua
  • Dukungan yang ada dari pembina Osis memungkinkan untuk menyelenggarakan suksesi secara Merdeka
  • Pengurus Osis lama memiliki keinginan untuk belajar berdemokrasi dan berorganisasi setelah 2 tahun belajar daring 
Pada tahap Gali Mimpi kedaaan ideal yang saya impikan akan terjadi
  • Hal-hal baru yang saya harapkan adalah pengurus OSIS masa bakti 2021 bekerjasama dalam merencanakan kegiatan dimulai dari pemilihan pasangan calon ketua dan wakil ketua, hingga merencanakan pemilihan secara merdeka (dari inisiatifnya sendiri)
  • Pasangan calon ketua dan wakil ketua Osis menyampaikan visi dan misi yang memang dibuatnya sendiri didampingi oleh seorang Coach dari pembina Osis
  • Pemilihan suara dilakukan oleh seluruh siswa memanfaatkan teknologi yang disediakan oleh pengurus Osis
  • Setiap rapat yang dilakukan direfleksikan hal-hal yang menjadi pembelajaran berikut dengan perasaan, hal baik dan tantangan yang harus dihadapi kedepannya.
  • Ketua dan wakil ketua Osis yang terpilih memiliki kompetensi sebagai pemimpin dari teman-temannya.
Rencana yang saya lakukan dapat dijabarkan sebagai berikut:
  • Merembugkan dengan kepala sekolah, pembina Osis dan waka kesiswaan terkait rencana saya untuk memberikan kemerdekaan pada pengurus inti Osis untuk menyelenggarakan suksesi
  • Mengumpulkan seluruh pengurus Osis lama untuk mengadakan rapat terkait suksesi dan menyamakan persepsi pengurus osis untuk bekerjasama dalam tim secara solid serta membiasakan berkordinasi.
  • Melaksanakan suksesi secara demokratis dimana perubahan besar yang terjadi adalah masing-masing paslon diberikan kesempatan menyampaikan visi misi dan programnya apabila terpiilih. Siswa lain mendengarkan orasi paslon dan dapat bertanya kepada paslon untuk berdiskusi secara aktif.
Untuk mengatur transformasi rencana menjadi aksi nyata saya mengatur eksekusi sebagai berikut:
  • Pada Minggu Pertama Bulan November saya melakukan rembug bersama Kepala sekolah (Bapak I Nyoman Narta), waka kesiswaan (Ni Luh Putu Sri Wahyuningsih), dan pembina Osis lain untuk menjalankan kegiatan (Bapak: Nyoman Gede Hadi Purnama, Ketut Sujana, Gusti Indra) 
  • Minggu kedua dilakukan pemilihan perwakilan kelas sebagai anggota Osis baru
  • Pada Minggu kedua bulan Desember pengurus inti Osis dikumpulkan untuk mengadakan breafing terkait suksesi yang akan dilakukan. Breafing dilakukan bersama pembina Osis berjumlah 4 orang dan 1 waka kesiswaan
  • Minggu ketiga bulan Desember dilakukan pemilihan calon ketua berdasarkan keinginan anggota menjadi ketua dari dasar hatinya, bukan ditunjuk oleh pembina atau pengurus lama.
  • Setelah didapat kandidat ketua, pengurus Osis lama dipimpin ketua Osis demisioner menetapkan pasangan calon ketua dan wakil ketua 
  • Minggu keempat dilaksanakan suksesi dimulai dari pembukaan melibatkan kasatdik, beberapa guru, dan Osis dilanjutkan dengan share video visi misi secara online kemasing-masing grup WA kelas,  orasi penyampaian Visi dan Misi paslon dan  diskusi interaktif secara luring, pemilihan secara online dan diakhiri dengan pengukuhan ketua dan wakil ketua Osis terpilih










Selengkapnya run down kegiatan dapat ditonton pada video berikut

Pembukaan Suksesi

Orasi terbuka penyampaian Visi dan Misi

Video masing-masing paslon
Paslon Galang
Paslon Cadar

Paslon Destar

Pengumuman hasil pemilihan dan Penutupan Kegiatan


Pembelajaran yang saya dapatkan sebagai guru penggerak adalah belajar berpikir positif, berkolaborasi, dan memahami perasaan anak didik. Tentunya dari anak-anak didik, sayapun juga belajar. Belajar sabar membimbing keresahan-keresahan yang mereka takuti, misalnya rasa grogi ketika menjadi MC, rasa grogi ketika paslon menyampaikan visi misi, dan kekhawatiran ketua Osis demisioner dalam menggerakkan temannya bekerja secara bertanggung jawab. Perasaan saya adalah puas melihat kemajuan yang terjadi pada diri anak-anak Osis. mereka mulai merencanakan, mulai belajar berkomunikasi, belajar arti kebersamaaan, dan tanggung jawab. Ceria mereka adalah kebahagiaan saya dan kami pembina.

Tantangan yang saya dapatkan adalah Pengurus belum terbiasa dengan metode baru yang dilakukan, mereka masih belum sigap dalam menyusun acara. Strategi yang kami lakukan sebagai pembina adalah awalnya membiarkan dahulu sejauh mana mereka bisa mempersiapkan segala sesuatunya, setelah gambaran kasar susunan acara diperoleh, disanalah dilakukan coaching antar pengurus inti Osis dan pembina. Acara suksesi berjalan lancar. Kedepannya hal positif yang terjadi akan terus dilanjutkan dan tuntunan yang diberikan sedikit demi sedikit akan dikurangi untuk melatih kemandirian mereka (Scafolding).

Mengawali perubahan ke arah positif tentunya tidak selalu berjalan mulus. Di tengah perjalanan akan ada kerikil-kerikil yang akan menghalangi. Berbekal dengan keinginan menuntun siswa mewujudkan profil pelajar pancasila, Mbok Nyoman sebagai guru penggerak berkeinginan berkolaborasi dengan stakeholder yang ada disekolah saya. Dengan adanya CGP angkatan 4, yaitu pak Nyoman Gede Hadi Purnama, tentunya akan menjadi kekuatan saya untuk bersama-sama menyelenggarakan pembelajaran yang Well-Being di sekolah.

Tiada henti-hentinya saya mengajak Sahabat Sains untuk tetap semangat, selalu berkarya, senantiasa mengawal anak-anak didik kita.

Selamat menjalankan amanah
tergerak, bergerak, dan menggerakkan